Welcome to "What itu Apa"

Dunia ini penuh dengan ketidaktahuan ^^

Kamis, 30 Juni 2011

Spongebob dan Patrick

1."Pengetahuan tidak dapat menggantikan persahabatan. Aku (Patrick) lebih suka jadi idiot daripada kehilanganmu (Spongebob)"

2. Spongebob: Apa yg biasanya kau lakukan saat aku pergi?
patrick : menunggumu kembali..

3. Saat sponge bob menjadi kaya dan melupakan patrick juga tmn2 spongebob yang kaya pergi dari spongebob, spongebob memohon kepada patrick, dan patrick berkata:
"Kalau uang bisa membuatku melupakan sahabat terbaikku, maka aku lebih memilih untuk tidak punya uang sama sekali"

4. Saat patrick di fitnah mencuri jaring ubur2 nya spongebob,patrick berkata:
" Tak apa kawan.. aku mungkin hanya bintang laut yang jelek.. lebih baik aku pergi dari bikini bottom.. ini, ambil saja barang2ku.. tapi aku tak pernah mengambil jaring mu kawan.."
(Patrick dituduh nyolong jaring dan dia sabar aja)

5. Patrick berteriak : "AKU JELEK DAN AKU BANGGA!!!"

6. Kalau kamu memberitahukan rahasia kepada seseorang, maka itu namanya bkn rahasia lagi.

7. pas spongebob mau masuk anggota jelly spotter.. terakhirnya patrick bilang:
"Pemujaan yang berlebihan itu tidak sehat.."

8. waktu itu ortu Patrick mau datang jenguk anaknya. Tapi Patrick takut dikatain bodoh sama ortunya. Demi Patrick, SpongeBob bela2in akting jadi orang bego biar ortu Patrick ga ngatain anaknya bego. Trus Patrick bilang ke SpongeBob:
"TEMAN ADALAH KEKUATAN"

9. waktu patrick dianggap ada keturunan raja terus mulai ngambil barang2 milik orang lain, terus dia berkata:
"Hidup itu memang tidak adil, jadi biasakanlah dirimu"…

10. waktu sponge bob mau les nyetir buat dapetin sim..
"Seharusnya kau belajar berjalan dulu nak, baru lah kau bisa berlari.."

11. waktu episode yg si spongebob nyari spatula baru, terus dia dapet spatula yg emas (klo ga salah), tapi si spatula emasnya ga nurut sama si spongebob akhirnya dia balik pk spatula nya yg lama.
trus si spongebob ngomong:
"Ternyata semua yg berkilau itu belum tentu emas"

12. waktu patrick iseng memberi lem pada alat penjepit lalu menyelipkan tubuh spongebob pada alat tersebut sehingga tidak bisa lepas, patrick merasa menyesal lalu menangis dan air mata patrick jatuh pada lem di alat tersebut sehingga lem itu mencair. Kemudian patrick dan spongebob menangis sehingga lem pada alat tersebut mencair dan spongebob bisa lepas. Spongebob berkata: "Menangis itu bisa menyelesaikan masalah"


Jumat, 17 Juni 2011

Dalam Hajat Cinta

Satu demi satu
Daun pun berguguran
Jatuh..
Dari titik tinggi ke titik rendah

Hari demi hari
Terus dilewati
Hingga Juni
Tiba masa diri

Kata orang
Selamat "ulang tahun"
Kata ku
Selamat "ilang tahun"

Kata orang
Selamat "bertambah usia"
Kata ku
Selamat "berkurang usia"

Kata orang
Makin "panjang umur"
Kata ku
Makin "pendek umur"

Yaa Robb..
Di malam-Mu izinkan ku
Berikan sujud abdi
Dalam hajat cinta


**************

Tuhan betapa aku malu
Atas semua yang Kau beri
Padahal diriku terlalu sering membuat-Mu kecewa

Entah mungkin karna ku terlena
Sementara Engkau beri
Aku kesempatan berulang kali agar aku kembali

Dalam fitrahku sebagai manusia
Untuk menghambakan-Mu
Betapa tak ada apa-apanya aku dihadapan-Mu

Aku ingin mencintai-Mu setulusnya
Sebenar-benar aku cinta
Dalam do'a
Dalam ucapan
Dalam setiap langkahku

Aku ingin mendekati-Mu selamanya
Sehina apapun diriku
Kuberharap
Untuk bertemu dengan-Mu Yaa Robbi


17 Juni 2011

Tepat tanggal 17 Juni 2011 menjadi batu loncatan bagiku. Berkurang lagi sebanyak 1 tahun. Entah apakah semenit akan datang masih di dunia ini atau bahkan setelah menulis ini malaikat maut menghampiriku..

Dari hati ku yang paling dalam ku ucapkan terima kasih, thanks, arigatou, danke, serta hatur nuhun pada saudara/i, kakak adik, kawan-kawan, serta handai taulan atas ucapan dan do'anya baik itu via fb, chatting, sms, bahkan bertatap muka langsung. Terima kasih..

Namun terlepas dari itu semua, pesan kalian mengingatkan aku. Tambahnya amanah di dunia namun berkurang jatah hidupku. Terima kasih Yaa Robb atas nikmat-Mu berupa umur ini..

Yaa Robb.. hamba sadar akan berkurang usia. Bukan setahun sekali, bahkan setiap hembusan nafas usia-ku semakin berkurang

Yaa Robb.. Disisa usia-ku ini, izinkan aku dapat pergunakan sebaik-baiknya. Menjadi insan berguna. Baik bagi orang tua, bangsa, negara, bahkan agama

Yaa Robb.. Perkenankan aku flashback 20 tahun kebelakang. Ketika seorang wanita kuat berjuang melahirkan seorang putra ke dunia ini. Ketika seorang pria hebat berjuang membanting tulang menghidupi anggota keluarga barunya. Serta kepada semua orang yang telah berjasa selama 20 tahun perjalananku. Berikanlah amal pahala terbaik untuk mereka semua Yaa Robb..

Aamiin Allahumma Aamiin..


1 dan 2

Telah tiba di persimpangan
Persimpangan antara "kepala 1" dengan "kepala 2"
Tak terasa telah banyak yang "terekam"
Mulai dari perjuangan . .

Senang . .

Sedih . .

Kesal . .

Kecewa . .

Serta harap . .


Hmm.. Aku harus terus berjalan
Berpindah persimpangan

Ku awali dengan lafadz "Basmalah" ^^


Maka ku katakan:

"Selamat tinggal kepala 1!!"
"Selamat datang kepala 2!!"


Ciputat, 17 Juni 2011
Ketika hari jadiku dijadikan-Nya


Achmad Yudha Pangestu



Kamis, 16 Juni 2011

Jika telat sehari saja, hadiah terindah dari-Nya ^^,



Ba'da mengajar, hape ku berdering. Ku lihat nama pengirim sms, ternyata dari temanku. Ku buka kunci tombol, lalu ku masuk ke dalam pesan. "Info: Besok 16 Juni 2011 akan terjadi gerhana bulan mulai jam 01.22 - 05.22 WIB (rabu malam / dini hari). Dianjurkan untuk kita semua melakukan sholat sunnah gerhana (khusuf)". Ya, kurang lebih itu isi pesan dari temanku. Jujur aku yang belum mendengar tentang berita ini tersontak kaget. "Jarang-jarang ada gerhana nih, tapi bener ga y?? masa sampe berjam-jam begitu sih gerhananya??" sangsi ku dalam hati. Lalu ku tanya teman ku itu. Tak lama kemudian dia menjawab "Bener kok".
...
Setelah ku mengerjakan sholat isya berjama'ah dengan teman ku, seorang staff di tempat ku mengajar, aku lalu pamit untuk pulang. Di perjalanan pulang, ku masih memikirkan hal itu. Tentang gerhana!!
...
Ku parkirkan si jagur, panggilan pada motor tua ku, di depan rumah. Ku ucapkan salam pada penghuni rumah dan dengan sergap mengambil lepi kesayanganku. Ku duduk di depan ruang tamu, mengambil tempat se-pewe mungkin dan menyalakan lepi. Ku colokkan modem, menyambungkan lepi ke dunia maya tanpa batas. Lagi dan lagi penyakit ketika ku online kambuh. Facebook!! Ya facebook!!. Entah kenapa, ketika ku mencari bahan untuk tugas di dunia maya, waktu ku mengarungi lebih banyak pada situs sosial ini, bukan pada tujuan utama. Mungkin ku telah terpapar virus. Virus yang belum ditemukan vaksinnya. Virus kegandurangan facebook!!
...
"gerhana bulan...suatu penampakan alam yang indah..ingin ku lihat nanti..". Status fb teman ku ini terpampang jelas ketika jendela beranda fb muncul di depan mata. "Berarti benar ada nih ntar!!" yakinku dalam hati. Ku komen status dia, "bener nih boi??" "Ya" jawabnya. Segera ku ambil nafas panjang, ku arahkan pointer ke arah new tab. Ku ketik kata "google.com" kemudian cari kata kunci "gerhana bulan juni 2011". Dan Subhanalloh terbaca "Gerhana Bulan Total 16 Juni 2011 Terpanjang Dalam 100 Tahun. Fenomena alam yaitu Gerhana Bulan Total akan terjadi pada hari kamis 16 Juni 2011". Allahu Akbar!! Kagumku akan hal ini. Ku arahkan pointer ke fb, perbaharui status. " Bintang.. Maafkan ku jika malam nanti ku lebih tertarik akan bulan ^^," Ya, aku yang suka akan bintang kali ini harus tertarik akan fenomena 100 tahun sekali.
...
Awalnya ku senang akan gerhana tersebut. Namun, entah mengapa, senang itu mulai menipis dari diri. Mungkin iri, mungkin kesal atau apa pun kemungkinan-kemungkinan itu. Terlintas dipikiran yang lalu ku jadikan status terbaru fb. "Jika telat sehari saja, hadiah terindah dari-Nya ^^,". Ya, jika saja gerhana itu telat datang sehari, maka gerhana itu menjadi hadiah terindah dari-Nya untukku. Batu loncatan kepala 1 ke kepala 2. Pertanda ku semakin tua namun entah apa semakin dewasa. Pertanda umur di dunia semakin berkurang namun amanah semakin bertambah. Kacau.. Kacau pikiran dan hatiku hingga nur dihalangi awan gelap. Nikmat terselubungi rasa iri dengki yang tak seharusnya hinggap. Astaghfirulloh Yaa Allah. Maafkan hamba yang berpikiran seperti itu . .


Ciputat, 16 Juni 2011
Menjelang jadiku jika dijadikan-Nya
 





Achmad Yudha Pangestu

Selasa, 14 Juni 2011

Cekidot ^^

Coba deh baca tulisan2 ini, mantap gan ^^


Ini juga mantap gan ^^, let's cekidot ^^


Senin, 13 Juni 2011

Andaikan Lebih Panjang, Baru dan Semuanya

Apabila ada sahabatnya yang meninggal, Rasulullah SAW biasanya hadir dan mengantarkan jenazah sahabatnya itu ke kuburan. Lalu, setelah semuanya selesai, Rasulullah menyempatkan berkunjung ke rumah keluarga yang ditinggalkan untuk sekedar menghibur. Pada suatu saat, terjadi dialog yang menarik antara Rasulullah dan istri almarhum sahabatnya. "Adakah wasiat dari suamimu?" Tanya Rasulullah.

Mulanya wanita tersebut ragu namun karena Rasulullah yang meminta, istri sahabat itu pun bercerita. "Wahai Rasulullah, sebelum suamiku meninggal, ia sempat berbicara lirih, 'Andaikan lebih panjang ... Andaikan yang baru ... Andaikan semuanya ...' Saya tidak paham apa yang ia katakan. Apakah itu wasiat atau hanya rintihan sakaratul maut? Tanya istri sahabat

Mendengar hal itu, Rasulullah tersenyum, lalu menjelaskan makna ucapan almarhum. "Begini istri sahabatku, apa yang telah engkau dengar dan apa yang telah diucapkan oleh suamimu adalah benar. Suamimu tidak sedang mengigau karena sakaratul maut. Ketika itu, suamimu melihat pahala amalan selama hidupnya" Jelas Rasulullah.

Kemudian Rasulullah melanjutkan penjelasannya, "Amalan tersebut terjadi ketika suamimu itu pergi ke masjid. Di perjalanan, ia bertemu dengan orang buta yang sama-sama hendak ke masjid, lalu ia menuntunnya. Maka, di akhir hayatnya ia menyesal, 'Andaikan jalan ke masjid itu lebih panjang lagi', pasti pahalanya lebih besar dari yang ia lihat sekarang"

"Suatu hari pula, suamimu itu juga hendak pergi ke masjid untuk sholat subuh. Di perjalanan, ia bertemu dengan orang yang sedang kedinginan. Lalu ia memberikan satu dari dua mantel yang ia pakai. Dan yang ia berikan itu bukan yang baru. Karena mantel yang baru, ia sendiri yang pakai. Maka, di akhir hayatnya ia menyesal. 'Andaikan yang diberikan itu mantel yang baru', pasti pahalanya lebih besar dari yang ia lihat sekarang." Lanjut Rasululullah.

"Suatu hari juga engkau sedang menyiapkan makanan untuk suamimu. Ketika makanan iu hendak dimakannya, tiba-tiba ada pengemis. Lalu suamimu memberikan separuh dari makanan itu. Maka, di akhir hayatnya ia menyesal. 'Andaikan yang ia berikan itu semuanya', pasti pahalanya lebih besar dari yang ia lihat sekarang." Jelas Rasulullah kepada pertanyaan istri sahabatnya itu.


Dari kisah di atas, dapat diambil hikmahnya. Sekecil apa pun amalan yang dilakukan, akan diperlihatkan. "Barang siapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula." (QS. Az-Zalzalah: 7-8)

Sabtu, 11 Juni 2011

Kehidupan Roda dan Roda Kehidupan

Suatu ketika, ada sebuah roda yang kehilangan salah satu jari-jarinya. Ia tampak sedih. Tanpa jari-jari yang lengkap, tentu, ia tak bisa lagi berjalan dengan lancar. Hal ini terjadi saat ia melaju terlalu kencang ketika melintasi hutan. Karena terburu-buru, ia melupakan, ada satu jari-jari yang jatuh dan terlepas. Kini sang roda pun bingung. Kemanakah hendak di cari satu bagian tubuhnya itu? Sang roda pun berbalik arah. Ia kembali menyusuri jejak-jejak yang pernah ia tinggalkannya.

Perlahan, di tapakinya jalan-jalan itu. Satu demi satu di perhatikannya dengan seksama. Setiap benda di amati, dan di cermati, berharap, akan ditemukannya jari-jari yang hilang itu. Ditemuinya kembali rerumputan dan ilalang. Dihampirinya kembali bunga-bunga di tengah padang. Dikunjunginya kembali semut dan serangga kecil di jalalanan. Dan dilewatinya lagi semua batu-batu dan kerikil-kerikil pualam. Hei... semuanya tampak lain. Ya, sewaktu sang roda melintasi titik-titik kecil. Semuanya, tampak biasa, dan tak istimewa.

Namun kini, semuanya tampak lebih indah. Rerumputan dan ilalang, tampak menyapanya dengan ramah. Mereka kini tak lagi hanya berupa batang-batang yang kaku. Mereka tampak tersenyum, melambai tenang, bergoyang dan menyampaikan salam. Ujung-ujung rumput itu, bergesek dengan lembut di sisi sang roda. Sang roda pun tersenyum dan melanjutkan pencariannya. Bunga-bunga pun tampak lebih indah, harum , dan semerbak, lebih terasa menyegarkan. Kuntum-kuntum yang terbuka, menampilkan wajah yang cerah. Kelopak-kelopak yang tumbuh, menari, seakan bersorak pada sang roda. Sang roda tertegun dan berhenti sebentar, Sang bunga pun merunduk, memberikan salam hormat.

Dengan perlahan, dilanjutkannya kembali perjalannya. Kini, semut dan serangga kecil itu, mulai berbaris, dan memberikan salam yang paling semarak. Kaki-kaki mereka bertepuk, membunyikan keriangan yang meriah. Sayap-sayap itu bergetar, seakan ada ribuan gendering yang di tabuh. Mereka saling menyapa. Dan, serangga itu pun memberikan salam, dan doa pada sang roda. Begitu pula batu dan kerikil pualam. Kilau yang hadir, tampak berbeda jika di lihat dari mata yang tergesa-gesa. Mereka lebih indah, dan setiap sisi batu itu memancarkan kemilau yang teduh. Tak ada lagi sisi dan ujung yang tajam dari batu dan pualam, membuka jalan, memberikan kesempatan untuk melanjutkan perjalanan.

Setelah lama berjalan, akhirnya, ditemukannya jari-jari yang hilang. Sang roda pun senang. Dan ia berjanji, tak akan tergesa-gesa dan berjalan terlalu kencang dalam melakukan tugasnya.


*Kawan, begitulah hidup. Kita seringkali berlaku seperti roda-roda yang berjalan terlalu kencang. Kita sering melupakan. Ada saat indah, yang terlewat di setiap kesempatan. Ada banyak hal-hal kecil yang sebetulnya meneyenangkan, namun kita lewatkan karena terburu-buru dan tergesa-gesa.

Terkadang hati dan pikiran terlalu penuh dangan target-target, yang membuat kita hidup dalam kebimbangan dan ketergesaan. Langkah-langkah kita, kadang selalu dalam keadaan panik, dan lupa, bahwa di sekitar kita banyak sekali hikmah yang perlu di tekuni. Seperti saat roda yang terlupa pada rumput, ilalang, semut, dan pualam, kita pun sebenarnya sedang terlupa pada hal-hal itu. Kawan, coba susuri kembali jalan-jalan kita. Cermati, amati, dan perhatikan setiap hal yang pernah kita lewati. Runut kembali perjalanan kita.

Adakah masa indah dalam roda kehidupan kita??

Ayah, Anak, dan Seekor Keledai

Pada suatu hari, hidup seorang ayah yang tua serta putra kecil nya. Mereka mempunyai keledai dan berniat ingin menjualnya ke desa seberang. Lalu, mereka pun pergi dari rumah dengan berjalan membawa keledainya di belakang mereka.

Di perjalanan mereka bertemu dengan seorang wanita. Lalu wanita tersebut melihat mereka dan tertawa.

"Hahaha, Bapak kenapa malah bawa keledai itu? Bukankah Bapak bisa menunggangi keledai tersebut?" kata wanita tersebut

"Hmm.. Bener juga ya" jelas sang ayah. Kemudian sang ayah menunggangi keledai tersebut dan sang anak mengikutinya dari belakang.

Tak beranjak kemudian, datang seorang perempuan tua. Dia langsung berteriak kepada mereka. "Hey, kamu ini gimana sih?? Masa kamu naik sedangkan anak kecil mu itu mengikutimu. Seharusnya dia (anak kecil, red) yang naik di atas keledai itu" tegas perempuan tua kepada mereka.

"Benar juga kata perempuan itu" batin sang ayah. Lekas sang ayah turun dari punggung keledai dan menyuruh anaknya menunggangi keledai tersebut.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga melewati pematang sawah. Di pematang sawah tersebut ada segerombolan petani sedang bekerja. Salah satunya sedang istirahat duduk menikmati air teh lalu melihat ke arah ayah anak dan keledainya.

"Woi nak, kamu ini tidak tahu diri ya? Seenaknya kamu naik keledai. Coba kamu lihat Ayah mu. Kasihan, dia berjalan kaki mengikuti mu yang duduk di atas keledai" teriak sang petani kepada mereka

"Bener juga ya, tidak tahu diri aku ini" jelas sang anak dalam hati. Lalu dia pun turun dan mengajak ayahnya berdialog

"Yah bagaimana caranya  ya biar kita ga dikritik orang lain terus-terusan?" tanya sang anak

Sang ayah berpikir, lalu mendapat ide. "Bagaimana kalau kita berdua bersama-sama menaiki keledai?"

"Boleh juga yah" tegas sang anak

Lalu mereka pun menaiki punggung keledai tersebut dan melanjutkan perjalanan ke desa seberang.

"Hey!!"

Terdengar suara teriakkan, entah dari mana asalnya. Lalu sang ayah melihat sekitar dan mencari sumber suara tersebut. Di belakang mereka terlihat seorang pemuda yang menghampiri. "Dari tadi aku melihat kalian menunggangi keledai, ketika kulihat keledainya, sepertinya keledai itu lelah. Kalau kalian tetap menaikinya, aku khawatir keledai itu akan mati kelelahan" jelas sang pemuda yang kemudian berlalu dari hadapan mereka.

Mereka melihat ke arah keledai dan merasa kasihan. Langsung saja mereka melompat dari atas keledai. Sang anak berkata "Kita tidak berperikehewanan yah, kasian juga keledainya." Mereka kehilangan cara untuk membawa keledai itu sampai ke desa seberang. Lalu sang anak berteriak "Aku punya ide!! Bagaimana kalau kita gotong saja keledai ini yah??" Lalu sang ayah mengangguk tanda setuju. Kemudian mereka memanggul keledai tersebut ke desa seberang.

Dalam perjalanan menuju desa, tubuh mereka sudah dibanjiri keringat. Kira-kira 10 meter lagi mereka sampai. Untuk mencapai ke desa, mereka harus melewati tanah lapang yang biasa digunakan anak-anak desa seberang bermain. Di tanah lapang tersebut terdapat sekumpulan anak-anak sedang bermain kelereng. Anak-anak tersebut melihat pemandangan yang tak biasa, seorang ayah dan anak memanggul keledai. Anak-anak tersebut tertawa terbahak-bahak. Salah satu dari mereka berkata kepada yang lain, "Hai teman-teman, coba lihat mereka. Lucu ya? Keledai kok malah dipanggul? Kan mereka bisa menungganginya? Hahaha"


*Kawan, Allah menganugerahkan sepasang telinga yang selalu terbuka lebar. Tak pernah sekali pun daun telinga menutup lubang telinga kita. Memang, kita harus lebih banyak mendengar. Harus lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Mengambil informasi sebanyak-banyaknya, seperti pendapat dari orang lain. Namun ingat kawan!! Kita juga diberi otak serta pikiran yang membedakan kita dengan makhluk hidup di bumi ini. Otak dan pikiran kita gunakan untuk berpikir, merespon, serta menganalisa informasi yang kita dapatkan. 

Terlalu mendengar pendapat serta menelannya mentah-mentah justru bisa merepotkan kita.