Welcome to "What itu Apa"

Dunia ini penuh dengan ketidaktahuan ^^

Sabtu, 11 Juni 2011

Ayah, Anak, dan Seekor Keledai

Pada suatu hari, hidup seorang ayah yang tua serta putra kecil nya. Mereka mempunyai keledai dan berniat ingin menjualnya ke desa seberang. Lalu, mereka pun pergi dari rumah dengan berjalan membawa keledainya di belakang mereka.

Di perjalanan mereka bertemu dengan seorang wanita. Lalu wanita tersebut melihat mereka dan tertawa.

"Hahaha, Bapak kenapa malah bawa keledai itu? Bukankah Bapak bisa menunggangi keledai tersebut?" kata wanita tersebut

"Hmm.. Bener juga ya" jelas sang ayah. Kemudian sang ayah menunggangi keledai tersebut dan sang anak mengikutinya dari belakang.

Tak beranjak kemudian, datang seorang perempuan tua. Dia langsung berteriak kepada mereka. "Hey, kamu ini gimana sih?? Masa kamu naik sedangkan anak kecil mu itu mengikutimu. Seharusnya dia (anak kecil, red) yang naik di atas keledai itu" tegas perempuan tua kepada mereka.

"Benar juga kata perempuan itu" batin sang ayah. Lekas sang ayah turun dari punggung keledai dan menyuruh anaknya menunggangi keledai tersebut.

Kemudian mereka melanjutkan perjalanan hingga melewati pematang sawah. Di pematang sawah tersebut ada segerombolan petani sedang bekerja. Salah satunya sedang istirahat duduk menikmati air teh lalu melihat ke arah ayah anak dan keledainya.

"Woi nak, kamu ini tidak tahu diri ya? Seenaknya kamu naik keledai. Coba kamu lihat Ayah mu. Kasihan, dia berjalan kaki mengikuti mu yang duduk di atas keledai" teriak sang petani kepada mereka

"Bener juga ya, tidak tahu diri aku ini" jelas sang anak dalam hati. Lalu dia pun turun dan mengajak ayahnya berdialog

"Yah bagaimana caranya  ya biar kita ga dikritik orang lain terus-terusan?" tanya sang anak

Sang ayah berpikir, lalu mendapat ide. "Bagaimana kalau kita berdua bersama-sama menaiki keledai?"

"Boleh juga yah" tegas sang anak

Lalu mereka pun menaiki punggung keledai tersebut dan melanjutkan perjalanan ke desa seberang.

"Hey!!"

Terdengar suara teriakkan, entah dari mana asalnya. Lalu sang ayah melihat sekitar dan mencari sumber suara tersebut. Di belakang mereka terlihat seorang pemuda yang menghampiri. "Dari tadi aku melihat kalian menunggangi keledai, ketika kulihat keledainya, sepertinya keledai itu lelah. Kalau kalian tetap menaikinya, aku khawatir keledai itu akan mati kelelahan" jelas sang pemuda yang kemudian berlalu dari hadapan mereka.

Mereka melihat ke arah keledai dan merasa kasihan. Langsung saja mereka melompat dari atas keledai. Sang anak berkata "Kita tidak berperikehewanan yah, kasian juga keledainya." Mereka kehilangan cara untuk membawa keledai itu sampai ke desa seberang. Lalu sang anak berteriak "Aku punya ide!! Bagaimana kalau kita gotong saja keledai ini yah??" Lalu sang ayah mengangguk tanda setuju. Kemudian mereka memanggul keledai tersebut ke desa seberang.

Dalam perjalanan menuju desa, tubuh mereka sudah dibanjiri keringat. Kira-kira 10 meter lagi mereka sampai. Untuk mencapai ke desa, mereka harus melewati tanah lapang yang biasa digunakan anak-anak desa seberang bermain. Di tanah lapang tersebut terdapat sekumpulan anak-anak sedang bermain kelereng. Anak-anak tersebut melihat pemandangan yang tak biasa, seorang ayah dan anak memanggul keledai. Anak-anak tersebut tertawa terbahak-bahak. Salah satu dari mereka berkata kepada yang lain, "Hai teman-teman, coba lihat mereka. Lucu ya? Keledai kok malah dipanggul? Kan mereka bisa menungganginya? Hahaha"


*Kawan, Allah menganugerahkan sepasang telinga yang selalu terbuka lebar. Tak pernah sekali pun daun telinga menutup lubang telinga kita. Memang, kita harus lebih banyak mendengar. Harus lebih peka terhadap lingkungan sekitar. Mengambil informasi sebanyak-banyaknya, seperti pendapat dari orang lain. Namun ingat kawan!! Kita juga diberi otak serta pikiran yang membedakan kita dengan makhluk hidup di bumi ini. Otak dan pikiran kita gunakan untuk berpikir, merespon, serta menganalisa informasi yang kita dapatkan. 

Terlalu mendengar pendapat serta menelannya mentah-mentah justru bisa merepotkan kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar