Alkisah, di Gotan City hidup seorang lelaki gagah, kaya raya, pengusaha tempe kelas kakap, serta baik hati. Walaupun lelaki ini blasteran Jawa-Nigeria, namun terlihat hitam manis. Bros Wan nama lelaki ini. Dia punya salah satu pembantu yang setia sejak ia kecil, bernama Alfret. Bros biasa memanggilnya dengan “Pret”.
"Pret, besok bangunin saya ya? Mau ke rumahnya bapak walkot nih tapi dengan kostum Sikeling. Ingetin saya ya?" ujar Bros kepada Alfret
"Oke Bos"
Bros Wan, selain menjadi pengusaha tempe sukses ternyata Bros punya profesi lain. Yoyoi, dia adalah seorang pahlawan tanpa tanda jasa alias superhero. Bros adalah seorang superhero yang dikenal dengan nama “Sikeling”. Singkatan dari “Si Kelelawar Ireng”. Seorang superhero kota Gotan City yang banyak menolong orang-orang sehingga banyak polisi dipecat karena tindakan Sikeling ini.
Saat beraksi Sikeling selalu ditemani dengan mobil kesayangannya. Badmobil namanya alias mobil buruk. Kenapa mobil buruk? Karena bentuk mobil ini tidak seperti biasanya.
Keesokkan harinya, Sikeling ingin pulang setelah menghadiri “undangan spesial” makan bareng bpk Uciroso, walikota Gotan City. Dalam perjalanan pulang ke rumah, Sikeling merasa aneh pada Badmobil-nya
“Ada apa nih? Kok goyang-goyang kaya naik odong-odong gini ya?” kata batin Sikeling
Lalu Sikeling pun memberhentikan mobilnya dan keluar dari mobil. Dilihatnya ban mobil ternyata kempes.
“Waduh, pantesan. Tapi masa bocor lagi sih? Kan sebelum ke rumah bpk walkot baru ditambal” ujar Sikeling gemas sambil menendang ban kempes tersebut. Namun Sikeling sadar akan perbuatannya itu karena dia tahu kalau mobil kesayangannya itu belum lunas, masih ada 2 bulan cicilan lagi. Dengan susah payah, dia mendorong mobilnya ke sebuah tambal ban yang kebetulan berada tidak jauh dari TKP.
“Tambal Ban Mbah Gedhek- Terkenal Sejak 1945”
Begitu tulisan yang tertera di atas bengkel elit DPR (ekonomi sulit di bawah pohon rambutan) alias bengkel ala kadarnya yang berada di bawah pohon rambutan.
“Bannya bocor ya, nak?”, tanya seorang kakek tua yang tiba-tiba muncul dari balik pohon.
“Iya, Mbah”, jawab Sikeling lesu, “Sudah kedua kalinya nih. Padahal baru ditambel Mbah”
“Hmmm…” Mbah Gedhek mengangguk-anggukan kepalanya dan mulai mempersiapkan peralatannya. Bak air sabun untuk memeriksa bagian ban yang bocor, dongkrak, pompa angin, dan sebagainya. “Silahkan duduk dulu aja di kursi kayu itu, nak. Biar Mbah kerjakan dulu bannya.”
45 menit berlalu, Sikeling mulai gak sabar. Maklum, dia lagi semangat-semangatnya karena sepakat berbisnis tempe bareng dengan bpk walkot . Ditambah lagi, Palentino Rossa seorang pembalap becak berseragam “Aku Bukan Bang Toyib“ yang tadi disalipnya kini sudah berjalan melewati tempat dia duduk. “Masa’kalah sama tukang becak”, pikir Sikeling dalam hati. Penasaran, ia mendekati Mbah Gedhek dan mengintip kerjanya.
“Pantesan aja lama! Bikin gedhek (kesel, red) aja nih si Mbah”, sergah Sikeling kasar. “Lha wong kerjanya lambat banget gini! Apa gak bisa lebih cepet lagi, Mbah?!”
Mbah Gedhek meletakkan ban dalam Badmobil yang sedang dia pegang dan menoleh ke arah Sikeling.
Tatapannya yang tajam membuat Sikeling secara tidak sadar mundur selangkah ke belakang. Tanpa disangka, dengan tidak kalah kerasnya, Mbah Gedhek balik bertanya, “Memangnya kamu pikir pekerjaan ini tidak penting sehingga harus dikerjakan dengan terburu-buru?”
“Memang begitu, kan? Cuman nambal ban ini, apa pentingnya? Jauh lebih penting pekerjaanku yang ke sana kemari buat nyelamatin Gotan City dari orang jahat! Mbah tahu kan kalo aku ini Sikeling?!”
“Iye, terus so what gitu loh, mau situ Si bolang kek, Si unyil kek, tetep aja, jangan pernah ngeremehin pekerjaan Mbah!”
Sikeling yang mulai geram sudah akan membuka mulutnya lagi untuk menjawab, namun kakek tua itu tidak mau kalah cepat dan melanjutkan kata-katanya.
“Dengarkan baik-baik, anak muda. Coba pikir. Seandainya tadi kamu dalam perjalanan untuk menyelamatkan ribuan orang dan banmu bocor, apa bukan berarti yang saya kerjakan ini tidak sama pentingnya dengan pekerjaanmu? Dengan memperbaiki ban bocormu dengan baik dan teliti, secara tidak langsung saya sudah membantu kamu menyelamatkan Gotan City kan. Apa kamu mau datang ke tempat yang mau ditolong naik becaknya Palentino Rossa? Mau?”
“Tidak usah muluk-muluk. Setiap ban bocor yang saya perbaiki pasti berhasil membawa pengemudinya tiba dengan selamat sampai di rumah. Coba bayangkan apabila saya melakukannya dengan asal-asalan. Bisa terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, bukan?”
“Lihat ban dalammu ini”, Mbah Gedhek menyodorkan dua buah ban dalam Badmobil yang sedang ia kerjakan. “Perhatikan ini, bekas tambalan yang dilakukan oleh penambal ban sebelumnya. Kasar dan kurang kuat rekatannya. Itu sebabnya tadi ban mobilmu bocor lagi. Masih untung tidak terjadi apa-apa. Dan ini, yang ada di kanan, adalah hasil tambalan ban yang Mbah lakukan. Bandingkan!”
Sikeling tercengang. Dia memperhatikan ban dalam pada bagian yang ditunjukkan oleh Mbah Gedhek dan ternyata memang benar, pekerjaannya kurang baik. Bahkan jauh dibandingkan hasil pekerjaan Mbah Gedhek. Padahal tadi dia cukup senang dan memberi tips lebih kepada penambal ban sebelumnya karena kerjanya hanya butuh waktu 5 menit saja.
“Ternyata Mbah Gedhek tak se’gedhek’ namanya” Sikeling batin dalam hati
Dengan menunduk, Sikeling mohon maaf kepada Mbah Gedhek dan mengarahkan dirinya kembali ke kursi kayu untuk menunggu. Di satu sisi, dia malu terhadap apa yang telah dia lakukan, namun di sisi lain, dia gembira karena mendapat pelajaran baru tentang hidup.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar